Selamat Datang Di Blog Anjas Maryo

Kamis, 21 Oktober 2010

Sosialisasi Lingkungan Hidup Usia Dini

Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rahmat Witoelar, dalam sambutan tertulis peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2008, mengingatkan kita bahwa pencemaran dan perusakan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia akhir-akhir ini telah menyebabkan bencana lingkungan, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dll. Oleh sebab itu upaya penyelamatan lingkungan sudah mendesak untuk dilakukan dan dibutuhkan perubahan perilaku seluruh komponen masyarakat dan dunia usaha yang lebih ramah lingkungan.

Tema hari lingkungan hidup sedunia yang diangkat oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup di Indonesia adalah “Ubah Perilaku dan Cegah Pencemaran Lingkungan”. Dalam rangka mengimplementasikan tema tersebut maka upaya perubahan perilaku harus didorong sedini mungkin.
Oleh sebab itu, pemberian wawasan mengenai lingkungan hidup kepada generasi penerus sejak usia dini sangat penting artinya dalam membentuk perilaku masyarakat yang mencintai dan menjaga lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah dengan melakukan sosialisasi lingkungan hidup ke berbagai sekolah yang merupakan lembaga pendidik kader generasi penerus bangsa.

Sosialisasi LH Usia Dini

Bapedalda Propinsi Kepulauan Bangka Belitung bekerjasama dengan Bapedalda dan Dinas Pendidikan Kabupaten Belitung telah menyelenggarakan sosialisasi lingkungan hidup bagi anak usia dini. Kegiatan tersebut dilaksanakan bagi siswa-siswi tingkat taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar di seluruh wilayah Kabupaten/Kota di Propinsi Kep. Bangka Belitung. Lokasi sekolah tempat penyelenggaraan sosialisasi untuk Kabupaten Belitung adalah TK Asoka dan SD Negeri 21 Tanjungpandan.

Pada hari pertama (Selasa, 3 Juni 2008), kegiatan sosialisasi digelar di TK. Asoka dengan jumlah siswa-siswi ± 50 orang beserta para guru. Pemutaran film kartun bertema lingkungan hidup mengawali acara, dan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Paryanta, S.Pd mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Zuni Fauziah, MT mewakili Kepala Bapedalda. Materi sosialisasi yang bertemakan lingkungan kita, air, tanah, dan udara disampaikan dengan sangat komunikatif oleh Ibu Erin, fasilitator dari Bapedalda Propinsi.
Antusiasme para siswa terlihat jelas karena penyampaian materi yang dikemas menarik dan pola penyampaian narasumber yang interaktif dan sangat komunikatif dengan audiensnya. Terlebih dengan adanya pemberian berbagai hadiah menarik bagi anak-anak yang berani memberikan jawaban atas pertanyaan narasumber menambah kehebohan ruangan kelas tempat sosialisasi berlangsung.

Selain itu, para siswa juga diajak untuk lebih mencintai lingkungan dengan diajak untuk bermain oleh fasilitator dalam permainan “menanam tanaman hias dalam pot”. Masing-masing siswa mendapatkan 1 buah pot yang ditempeli stiker bertuliskan nama siswa sehingga masing-masing siswa dituntun untuk ikut bertanggungjawab atas
Pada hari kedua (Rabu, 4 Juni 2008), kegiatan yang sama dilakukan di SD Negeri 21 Tanjungpandan. Acara diikuti oleh ± 60 orang siswa-siswi kelas I & II, beserta para guru yang ikut mendampingi. Seperti hari pertama, kegiatan pada hari kedua ini diawali dengan pemutaran film kartun bertema lingkungan tentang banjir dan si acil, dilanjutkan sambutan oleh Paryanta, S.Pd (Dindik) dan Mardi Smolik, M.Si (Bapedalda).

Sangat disayangkan sekali acara sosialisasi hari kedua ini terganggu dengan pemadaman aliran listrik bergilir yang terjadi di SDN 21 Tanjungpandan, sehingga materi interaktif yang telah disusun tidak dapat ditayangkan kepada audiens. Akan tetapi kepiawaian Fasilitator Bapedalda Propinsi, Ibu Erin, mampu memikat hati para siswa untuk tetap fokus pada materi dan berbagi pengetahuan dan pengalaman sehari-hari mengenai lingkungan hidup sekitar.
Para siswa terlihat sangat antusias mengikuti kata-demi kata yang terlontar dari pita suara fasilitator kita, terlebih dengan adanya hadiah bagi siswa yang berani menjawab pertanyaan maupun memberikan tanggapannya tentang lingkungan. Penyampaian materi yang menarik, komunikatif, dan permainan menanam tanaman yang interaktif mampu melenakan para siswa sehingga tidak terasa waktu 2 jam begitu cepat berlalu.

Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 12.00 WIB dan materi sosialisasi telah disampaikan seluruhnya, dan sekarang saatnya bagi tim fasilitator dari Bapedalda Propinsi dan pendamping dari Kabupaten Belitung undur diri. Sebelum tim sosialisasi berpamitan, Ibu Erin mewakili Tim Propinsi menyerahkan materi dan bahan ajar lingkungan hidup bagi anak-anak dan dana stimulan bagi perawatan tanaman hias kepada Kepala SDN 21 Tanjungpandan. Seraya berpamitan, Ibu Erin juga berharap bahwa program ini dapat didukung dan dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Belitung melalui program-program pemerintah daerah. Dan tidak lupa pula, Ibu Erin dan rekan-rekannya membagikan kenang-kenangan berupa alat tulis bagi seluruh siswa yang telah mengikuti kegiatan sosialisasi.
 
Sumber : Mardi Smolik, M.Si

Sosialisme Indonesia

Di tengah kekacauan situasi politik, ekonomi, sosial, hukum, keamanan di Indonesia, segalanya menjadi tidak pasti kecuali satu hal; bahwa sebagai kaum Sosialis sudah seharusnya berdiri secara pasti di atas keyakinan dan kekuatan diri sendiri bersama kelas-kelas tertindas yang berjejalan di negeri ini.
Sudah terlampau pekat mistik dan perjudian nasib dalam kehidupan massa rakyat kita. Sudah ratusan ribu mimpi-mimpi kosong tak bertemu kenyataan. Dan segala macam mistik tak perlu ditambah lagi. Biarpun wabah ini merambah ke dunia pergerakan politik, namun tidak bagi kaum Sosialis, tentunya. Memang, beberapa elemen kiri di Indonesia banyak yang bergerak dengan kaki gemetaran karena takut sebab tidak percaya pada kekuatan diri sendiri. selanjutnya mereka perlu menghiba dan meminta suaka perlindungan kepada elite berkuasa atau kekuatan-kekuatan besar yang bisa diminta. namun segala jaminan perlindungan akan keselamatan pergerakan yang bertopang pada kekuatan bukan dirinya sendiri tentu saja bersifat gambling alias berjudi. Ketergantungan inilah yang berbahaya bila sudah mempertautkan massa rakyat kelas tertindas. Ada banyak pelajaran dari sejarah yang meletakkan pilihan yang salah dari sesama kaum kiri yang tanpa banyak perhitungan berkoalisi dengan kekuatan reaksioner.
Untuk menerangi jalan kepastian Sosialisme itulah blog kecil DIREKSI DUNIA SOSIAL hadir dengan optimisme bahwa kami akan berseru dari dan untuk kaum marhaen, proletar dan kaum muda revolusioner di negeri ini yang mencita-citakan dan memperjuangkan Kemerdekaan Sejati Menuju Sosialisme Indonesia. 

sumber : 

Sosialisme Indonesia

Media Sosial “Online” Sebagai Bagian Kehidupan Kedua

Hal yang paling menarik dalam beberapa tahun belakangan ini setelah tahun milenium adalah munculnya beberapa fenomena media sosial online yang menjadi sebuah komunitas untuk membentuk sebuah kehidupan dalam dunia maya menjadi pelengkap dalam media sosial kehidupan nyata. Banyak hal yang terjadi dalam keunikan dunia media baru yang muncul satu persatu seperti Friendster, Facebook ataupun Blog. Saya menyebut media sosial ini menjadi media kedua setelah media sosial kehidupan kedua , karena kini manusia menjadi lebih mencintai waktunya di alam maya kebanding alam nyata. Walau tidak sepenuhnya sih.. hehehe
Media sosial kini berkembang menjadi sangat pesat dan pastinya mempengaruhi sikap dan pandangan orang lain terhadap siapa yang ia ingin tau. Dulu, bila kita ingin berkenalan dengan seseorang? Rasanya bila kita ingin mencari tahu orang itu, kita hanya memiliki sedikit cara yaitu mendekati sahabat-sahabat disekitarnya. Tentunya, itu akan membuat isi hati kita diketahui sehingga timbul rasa malu. Tapi kini, dengan media sosial online, kita akan lebih menjadi dekat dengan siapapun tanpa batas. Walau hanya sekedar untuk melihat wajah-wajah di foto sang yang kita cari tapi dari personal profil yang ditulis oleh orang itu, rasanya kita sudah bisa membaca apa kegiatan dan kesukaannya.
Tentu saja itu menjadi modal yang unik untuk memuaskan hal pribadi kita akan seseorang. Tapi, adalagi, hal lain yang lahir dari media sosial online yang juga bisa menjadi suara rakyat andai kata media itu digunakan sebagai alat untuk menjalin kekuatan menolak ketidakadilan ataupun mendukung sosok yang terziromi(tersakiti). Masih ingat kan kasus Prita sari ataupun kriminalisasi ketua KPK yang menimbulkan dukungan secara luas yang membuat suara media Sosial begitu kuatnya hingga akhirnya suara itu menjadi dukungan yang membuat Pemerintah kita lebih berhati-hati karena tidak lanjut yang tidak adil menjadi sorotan dan diperhatikan.
Media Sosial unik juga bisa melahirkan beberapa bintang-bintang yang instant semacam Duet Keong racun Sinta dan Jojo ataupun penulis aktif di media sosial Blog yang memang sejak awal menjalin pembaca seperti Agnes Davonar menjadi sukses sebagai penulis terkenal. Buat saya kedunya adalah orang-orang yang beruntung terlahir dari media sosial online dengan kegigihan dan keinginan menunjukkan media sosial bisa menjadi bagian dimana mereka mendapatkan uang secara Cuma-Cuma tapi ditambah populalitas yang unik karena berawal dari media sosial online menjadi media masyarakat luas.
Tapi jangan senang dulu dengan popularitas, ada juga yang gara-gara media sosial malah celaka dan berakhir di rumah prodeo (penjara), masih ingat juga kasus penghinaan seorang mantan kekasihnya di situs jejaring sosial yang membawa kemarahan sang kekasih kemudian melaporkan tulisan itu ke Polisi dan berakhir dengan hukuman penjara untuk sang penghina. Nah, itu juga sebuah pelajaran buat kalian kalau ingin melakukan sesuatu di dunia maya, karena saat ini Pemerintah juga sudah memiliki undang-undang untuk tindakan kejahatan yang sebenarnya menurut saya melanggar kebebasan, ya ngomong-ngomong kebebasan berbicara, kita lebih baiklah di banding negara-negara otoriter lain yang konon melarang rakyatnya bersuara lewat media apapun termasuk media sosial online.
Media sosial sebagai bagian kehidupan adalah periode hidup yang akan menjadi generasi ketiga peradaban manusia, setalah manusia menikmati media televisi dan media cetak. Saya percaya kelak manusia akan melahirkan inovasi lebih tinggi setelah media sosial online, siapa tau kelak muncul media sosial kehidupan nyata yang semuanya dimulai dari media sosial sehingga semua kegiatan dilakukan tanpa perlu kemana-mana cukup lewat laptop di depan kita. Well.. saya sendiri penggila media sosial dan yakin kalian adalah satu satu orang yang menggilai media sosial.

Harapan saya tentu saja mari kita gunakan media sosial menjadi media kebaikan yang berguna untuk menunjang hidup kita, bukan untuk melakukan media keburukan, karena seperti kehidupan kadang kala segala sesuatu dapat diputarbalikan menjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuannya. Saya hanya satu diantara orang yang beruntung menjadi lebih berguna dengan kerterbatasan saya karena adanya media sosial dalam kehidupan, kini walau saya tak bisa melangkah jauh karena kondisi fisik yang tidak mendukung, saya memiliki media sosial sebagai suara saya untuk menyampaikan pesan atau pendapat saya kepada teman-teman ataupun sekedar shering tulisan ini di media online,.
Demikian pandangan saya tentang media sosial, semoga berguna dan bermanfaat untuk kalian semua,

sumber : Kompasiana

Kehidupan Sosial Informasi

Penulis paper ini mereview mengenai "Kehidupan Sosial Informasi" karya John Seely Brown dan Paul Duguid yang memfokuskan pada pembahasan dampak teknologi terhadap masyarakat. Buku tersebut dianggap sebagai salah satu buku paling penting yang dirilis dengan topik teknologi dan bisnis. "Kehidupan sosial informasi menganalisa beberapa aspek mengenai zaman informasi, menggali bagaimana teknonolgi membuat masyarakat gagal dan menawarkan beberapa strategi peningkatannya. Penulis menyadari bahwa buku tersebut bukan studi ilmiah, tetapi lebih sebuah sintesa mengenai informasi. Paper ini menekankan pada argumen penulis yang mengatakan bahwa teknologi tidak akan dapat secara mendasar mengubah masyarakat manusia sebagaimana dikemukakan oleh beberapa orang. Paper ini membahas betapa sebenarnya kemajuan zaman informasi tidak dapat diandalkan, sementara janji-janji masa depan yang lebih mudah ternyata tidak terealisasi. Paper ini juga membahas bagaimana masyrakat merespon perkembangan teknologi, dan kenyataannya, meskipun teknologi sangat maju, situasi sebenarnya masih benar-benar sama seperti 10,000 tahun yang lalu.

Kamis, 30 September 2010

ASPEK SOSIAL EKONOMI KERAGAMAN HAYATI

Manusia dimanapun berada dipengaruhi oleh faktor biotik maupun faktor abiotik.
Semua organisme hidup mulai dari organisme bersel tunggal sampai organisme tingkat tinggi
seperti berbagai jenis tumbuhan dan hewan dikenal dengan istilah keragaman hayati. Adanya
keragaman hayati memberikan kesempatan bagi manusia untuk mengembangkan pengetahuan
dan teknologi untuk memanfaatkan berbagai sumber daya hayati guna memenuhi kebutuhan
manusia sehari-hari seperti makanan, obat-obatan, produk industri dan perumahan. Oleh
karena itu, berbagai aspek kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung sangat
dipengaruhi oleh keragaman hayati.
Kata kunci: Kehidupan sehari-hari, Keanekaragaman
PENDAHULUAN
Keragaman hayati (biodiversity atau biological diversity) merupakan istilah yang
digunakan untuk menggambarkan kekayaan berbagai bentuk kehidupan diplanit bumi ini
mulai dari organisme bersel tunggal sampai organisme tingkat tinggi. Keragaman hayati
mencakup keragaman habitat, keragaman spesies (jenis) dan keragaman genetik (variasi sifat
dalam spesies).
Sedikitnya ada 5.100 spesies tumbuhan digunakan masyarakat untuk ramuan obat
cina. Sekitar 80% penduduk di Dunia ketiga (lebih kurang 3 milyar) tergantung pada
pengobatan tradisonal (Shiva, 1994). Selain pengobatan tradisional, pengobatan moderenpun
sangat tergantung pada keragaman hayati terutama tumbuhan dan mikroba.
Indonesia adalah salah satu pusat keragaman hayati terkaya didunia. Di Indonesia
terdapat sekitar 25.000 spesies tumbuhan berbunga (10% dari tumbuhan berbunga dunia).
Jumlah spesies mamalia adalah 515 (12% dari jumlah mamalia dunia). Selain itu ada 600
spesies reptilia; 1500 spesies burung dan 270 spesies amfibia. Diperkirakan 6.000 spesies
tumbuhan dan hewan digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Ada sekitar 7.000 spesiers ikan air tawar maupun laut merupakan sumber protein
utama bagi masyarakat Indonesia (Shiva, 1994).
Masyarakat dimanapun berada merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai
organisme lain yang ada pada habitat tersebut dan membentuk suatu sistem ekologi dengan
ciri saling tergantung satu sama lain. Masyarakat secara alamiah telah mengembangkan
pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh kehidupan dari keragaman hayati yang ada di
lingkungannya baik yang hidup secara liar maupun budidaya. Misalnya masyarakat pemburu
memanfaatkan ribuan jenis hewan dan tumbuhan untuk makanan, obat-obatan dan tempat
berteduh. Masyarakat petani, peternak dan nelayan mengembangkan pengetahuan dan
teknologi untuk memanfaatkan keragaman hayati di darat, sungai, danau dan laut untuk
memenuhi berbagai kebutuhan hidup mulai dari makanan, pakaian, perumahan sampai obatobatan.
Masyarakat industri memanfaatkan keragaman hayati untuk menghasilkan berbagai
produk industri seperti tekstil, industri makanan, kertas, obat-obatan, pestisida, kosmetik.
Ilustrasi ini menggambarkan bagaimana keragaman hayati sangat erat hubungannya dengan
masyarakat tanpa memandang tingkatan penguasaan teknologi, status sosial ekonomi
maupun budaya. Dengan demikian, keragaman hayati adalah tulang punggung kehidupan,
baik dari segi ekologi, sosial, ekonomi maupun budaya.
ASPEK EKONOMI
Perkembangan teknologi di suatu habitat sangat tergantung dari interaksi antara
kualitas sumberdaya manusia dan sumber daya alam yang tersedia. Oleh karena itu
keragaman hayati sangat menentukan perkembangan teknologi. Banyak teknologi yang
tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia memanfaatkan proses-proses biologi oleh
organisme. Industri minuman beralkohol seperti anggur, bir dan roti serta pengawetan daging
telah ada sejak zaman prasejarah. Adanya keragaman jenis mikroba memungkinkan
berkembangnya teknologi fermentasi lainnya untuk menghasilkan keju, yoghurt, susu masam,
kecap dsb.
Sejak tahun 1920 teknologi fermentasi dikembangkan untuk memproduksi zat-zat
seperti aseton, butanol, etanol dan gliserin. Teknologi fermentasi juga digunakan untuk
memproduksi asam laktat dan asam asetat (Apeldoorn, 1981).
Antibiotik Penicillin yang diproduksi oleh mikroba (jamur) Penicillium notatum
berkembang secara cepat setelah Perang Dunia II. Teknologi ini mengilhami lahirnya
teknologi serupa untuk menghasilkan berbagai jenis antibiotika. Zat-zat lain seperti vitamin,
steroid, enzim dan asam amino dimungkinkan untuk diproduksi karena adanya keragaman
mikroba yang sangat berperan dalam proses tersebut. Kenyataan telah menunjukkan bahwa
industri yang tak terhitung jumlahnya memanfaatkan keragaman mikroba untuk menghasilkan
berbagai jenis barang dan jasa.
Perkembangan bidang ilmu biologi molekuler dan biologi sel yang terjadi sangat cepat
pada beberapa dasawarsa belakangan ini juga lahir dan diilhami oleh keragaman hayati yang
ada di planit bumi ini dan menjadi dasar ilmiah utama bagi perkembangan teknologi
mutakhir dalam bidang biologi (bioteknologi). Sejak ditemukannya teknologi rekombinan
DNA atau rekayasa genetik pada tahun 1973, para ahli dapat menyisipkan informasi genetik
yang betul-betul asing ke dalam mikroba. Informasi genetik ini akhirnya merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari mikroba termasuk kehidupan dan perkembangbiakkannya,
sehingga mikroba mempunyai kemampuan baru sesuai dengan informasi genetika baru yang
disisipkan. Para ahli berlomba untuk mencari berbagai jenis gen (informasi genetik) dari
keragaman hayati yang ada di alam untuk memproduksi organisme baru yang mempunyai
kemampuan untuk menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan keinginan manusia. Beberapa
jenis tanaman transgenik seperti jagung, kedele, kapas dan kentang telah dihasilkan dan
dibudidayakan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Argentina, Kanada, Australia dan
Meksiko. Di Amerika Serikat pada tahun 1998 ada sebanyak 20 juta hektar (74% dari skala
Dunia) tanaman pertanian merupakan tanaman transgenik (James, 1998). Hanya saja satu hal
yang harus diperhatikan bahwa organisme baru dari hasil rekayasa genetik jangan sampai
mengancam keberadaan keragaman hayati di bumi ini.
ASPEK SOSIAL BUDAYA
Untuk memberikan gambaran mengenai hubungan keragaman hayati dengan
perubahan sosial budaya, penulis ingin mengajak para pembaca untuk mengingat kembali
kondisi dan praktek pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Bali sebelum revolusi hijau
yaitu sebelum tahun 70-an. Petani Bali saat itu masih menanam beberapa puluh jenis atau
varietas padi local seperti : Ijo Gading, Cicih, Bengawan dan Cicih Beton. Umur padi ini
adalah sekitar 200 hari (sekitar 6 bulan). Penanaman padi selalu disesuaikan dengan
pedewasan (hari baik) yang ditentukan bersama oleh anggota Subak atas petunjuk ahli
pedewasan. Rotasi tanaman dengan berbagai jenis tanaman palawija seperti jagung, kedele
dan kacang tanah secara tertib dan ketat dilaksanakan. Pupuk yang digunakan adalah pupuk
organik seperti pupuk hijau,pupuk kandang dan jerami. Panen dilakukan dengan
menggunakan ani-ani oleh kelompok pemanen (sekehe manyi) secara gotong royong. Jerami
padi dibenamkan kembali sebagai pupuk. Setelah panen, padi dikeringkan dan disimpan
dalam lumbung padi yang ada dimasing-masing rumah petani. Dengan sistem ini tingkat
produksi dapat dipertahankan selama beratus-ratus tahun tanpa adanya ledakan hama maupun
penyakit. Hal ini terjadi karena keragaman hayati di ekosistem sawah masih terpelihara
dengan baik. Komponen hayati seperti kodok, ular sawah, belut, berbagai jenis capung, kupukupu
dan lainnya dapat hidup berdampingan secara seimbang.
Sejak tahun 1970-an, diperkenalkanlah jenis padi berumur pendek yaitu sekitar 105
hari mempunyai kemampuan produksi tinggi, sehingga memungkinkan menanam dua kali
setahun. Petani mulai merubah varietas lokal dengan varietas baru. Varietas baru ini
memerlukan banyak unsur nitrogen melebihi kapasitas bakteri pengikat nitrogen yang ada di
dalam tanah untuk menyediakan, sehingga petani harus membeli pupuk buatan. Dengan
menanam satu atau dua jenis padi secara terus menerus dalam areal yang sama mengakibatkan
populasi hama meningkat, sehingga petani harus menyemprot menggunakan pestisida.
Sayang sekali,pestisida ini tidak hanya mematikan hama sasaran, tetapi juga berbagai jenis
organisme non-target seperti laba-laba, kodok, ular sawah yang merupakan komponen
penting untuk mempertahankan ekosistem sawah.. Terganggunya keragaman hayati ini pada
akhirnya membawa dampak yang sangat serius tidak saja dari segi ekologis tetapijuga sosial
ekonomi dan budaya. Penyuluh belut dan pencari kodok hampir lenyap keberadaannya dan
kini tinggal kenangan saja. Dengan varietas baru petani harus menyediakan sarana produksi
yang semuanya harus dibeli dan sangat tergantung dari pabrik. Kondisi ini mendorong petani
untuk menebaskan padinya saat di sawah sebelum panen untuk memperoleh uang secara
cepat, sementara “Jineng atau Kelumpu” sama sekali tidak berfungsi sehingga kini sebagian
besar keluarga petani tidak memilikinya lagi. Tidak adanya “Jineng atau Kelumpu”
menghilangkan salah satu kegiatan relegi petani yang berkaitan dengannya. Sekehe manyi
kini sudah hampir lenyap dan substansi gotong-royongpun sudah mulai bergeser.
Pertimbangan ekonomis menjadi dominan dalam kehidupan masyarakat.
USAHA PELESTARIAN KERAGAMAN HAYATI
Salah satu krisis yang dihadapi masyarakat saat ini adalah krisis keragaman di
berbagai bidang. Krisis ini terjadi akibat arus globalisasi dan efisiensi yang menuntut
keseragaman. Makanan tradisional yang beragam mulai digusur oleh makanan moderen
seperti roti, burger. Buah local telah tergusur oleh buah impor. Pada survei yang dilakukan
pada bulan Mei 2000 pada tiga supermarket dan tiga pasar tradisional di Denpasar ditemukan
bahwa hampir 75% buah yang dijual di supermarket maupun pasar tradisional merupakan
buah impor (Triyuliani, 2000). Walaupun Bali mempunyai puluhan jenis pepaya lokal,
namun sangat jarang dijumpai di supermarket maupun warung tradisional dan sudah diganti
dengan pepaya Bangkok. Buah tropis lokal Bali seperti Badung, Mundeh,Klecung, Leket dan
yang lainnya hampir tidak pernah dijumpai lagi. Masyarakat Bali yang dulunya banyak
memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan untuk pengobatan tradisional kini telah beralih
menggunakan obat-obatan buatan pabrik, sehingga lambat laun keberadaan tumbuhan tersebut
juga teracam dari kepunahan.
Untuk skala dunia, diperkirakan tingkat kepunahan spesies pada tahun 1990-an
mencapai 10.000 spesies per tahun (satu spesies per jam), sehingga selama kurun waktu 30
tahun sekitar satu juta spesies akan hilang (Wilson, 1988). Oleh karena itu, usaha pelestarian
keragaman hayati menjadi sangat penting dan harus dilakukan secara sistematis, terprogram,
baik melalui proses pendidikan (formal dan nonformal), di sekolah maupun dilingkungan
masyarakat maupun melalui perangkat hukum (Undang-undang, Peraturan Pemerintah,
Peraturan Daerah maupun Awig-awig). Selain itu, kegiatan penelitian inventarisasi dan
pemanfaatan keragaman hayati perlu lebih digalakkan, baik oleh universitas,lembaga
penelitian maupun oleh sektor industri.
Masyarakat Hindu Bali sebenarnya telah menanamkan berbagai dasar pelestarian
terhadap keragaman hayati. Konsep Tri Hita Karana merupakan salah satu pemikiran
bagaimana sebaiknya kita menjalin hubungan dengan komponen-komponen alam semesta ini
agar kehidupan manusia di bumi ini bisa dilestarikan. Berbagai kearifan ekologis telah
diciptakan oleh nenek moyang masyarakat Bali dalam rangka menjaga kelestarian alam
beserta isinya. Pendirian Pura di tempat-tempat tertentu (kebanyakan kawasan hutan/gunung)
disertai dengan berbagai peraturan seperti pelarangan menebang pohon besar dengan radius
tertentu dari pura, pelarangan penebangan pohon disekitar mata air, pelarangan pemburuan
hewan pada kawasan tertentu semua merupakan pemikiran dan konsep untuk melestarikan
keragaman hayati. Adanya perayaan khusus untuk tumbuh-tumbuhan (Tumpek Pengatag atau
Tumpek Uduh) dan perayaan khusus untuk hewan (Tumpek Kandang) yang dilakukan setiap
210 hari sekali merupakan cerminan bahwa masyarakat Hindu Bali secara konsep maupun
pelaksanaan selalu menempatkan komponen hayati yang ada di alam ini sebagai bagian yang
tidak terpisahkan dari kehidupannya
Secara umum,masyarakat Hindu Bali menyelenggarakan upacara dengan membuat
sesajen yang bahan-bahannya sangat beragam yang diambil dari alam. Pada kasus upacara
besar seperti Upacara Eka Dasa Ludra di Pura Besakih bahan-bahan upacara jumlahnya
sampai ribuan jenis yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan maupun hewan. Sekitar 90
jenis pisang; 125 jenis temu-temuan, 40 jenis kelapa dan berbagai jenis tumbuhan dan hewan
lainnya digunakan pada upacara tersebut (Mangku Ngakan, komunikasi pribadi pada tanggal
25 April 1999). Makna dan simbul yang terkandung di dalamnya adalah bahwa semua jenis
tumbuhan dan hewan tersebut harus dilestarikan karena sangat diperlukan untuk menjaga
keselarasan kehidupan.
Untuk masa mendatang perlu diupayakan usaha secara sistematis agar di satu pihak
pelestarian keragaman hayati dapat dilakukan dan di pihaklain dapat memberikan manfaat
ekonomi bagi masyarakat. Gagasan untuk mengembangkan agrowisata bisa dikaitkan dengan
usaha pelestarian keragaman hayati. Keragaman hayati yang kita miliki bisa dimanfaatkan
untuk mendukung kegiatan agrowisata, misalnya dengan membuat kebun buah-buahan
tropis, kebun raya dengan mengoleksi berbagai jenis tumbuhan yang ada di Bali. Hal ini
mempunyai peluang untuk dipasarkan karena pilihan dan motivasi wisatawan untuk
berkunjung ke suatu tempat tidaklah bersifat statis tetapi selalu berubah. Keinginan untuk
menikmati obyek spesifik seperti kawasan pertanian organik, kawasan perkebunan termasuk
teknologi tradisional yang diterapkan cukup menjanjikan untuk dikembangkan dimasa yang
akan datang.
PENUTUP
Keragaman hayati merupakan komponen penyusun ekosistem alam yang mempunyai
peran sangat besar baik ditinjau dari segi ekologis, sosial, ekonomis maupun budaya.
Perubahan ekologis, sosial, ekonomi dan budaya akan terjadi bila dalam perjalanan sejarah
keragaman hayati terancam dan berubah menjadi keseragaman hayati. Teknologi yang
berkembang yang diilhami oleh keragaman hayati hendaknya digunakan semaksimal mungkin
untuk melestarikan keragaman hayati itu sendiri, bukan sebaliknya menghancurkan
keragaman hayati. Konsep hidup berdampingan secara harmonis dengan berbagai komponen
hayati penghuni planit bumi ini hendaknya dapat diwujudkan dengan mengedepankan Motto :
Hidup sejahtera bersama.

sumber : ejournal.unud.ac.id

Sabtu, 25 September 2010

Jejaring Sosial Munculkan Lahan Bisnis Baru Ellyzar Zachra PB

Jakarta - Perusahaan yang mengandalkan keuntungan dari jumlah pelanggan dan loyalitas merek kini melirik jejaring sosial. Lahan pekerjaan baru di bidang media sosial pun kini jadi sangat dibutuhkan.
Beberapa bulan terakhir seperti dikutip dari Bloomberg Businessweek, perusahaan Sears Holding, Panasonic, Citigroup, Electronic Arts, AT&T, Fiji Water dan masih banyak lagi mulai mempekerjakan ahli media sosial.
Sebagai pemimpin perusahaan yang begitu mengejar perkembangan dunia digital mereka memanfaatkan kepercayaan dan emosi yang hadir di jejaring sosial. Proses perekrutan ini berazaskan kepada kepercayaan bahwa seseorang mampu memahami perilaku konsumen di internet.
Pete Cashmore yang menjalankan blog Mashable menilai saat ini menjadi peluang bagi industri ini yang benar-benar meledak. “Ada lebih banyak masyarakat yang berpartisipasi saat ini. Ada banyak perusahaan menyadari ini dan menganggap bahwa mereka harus memiliki strategi media sosial,” papar Cashmore.
Hougland Curtis, pendiri Attention, spesialis pemasaran dan Humas berbasis di New York mengatakan pasokan calon berpengalaman tidak mampu memenuhi jumlah permintaan direktur media sosial.
“Mereka mungkin memiliki akun Twitter yang aktif dan blog yang hebat, namun ini bukan berarti mereka mengerti bagaimana memanfaatkan ini (dunia sosial online) dalam konten bisnis.”
Manager sosial media telah membentuk pedoman bagi perusahaan. Beberapa pekerja mungkin tampak curiga atas ide penggunaan Twitter karena hal ini terdengar ‘janggal’. Namun, seringkali terjadi kekhawatiran berlebihan dapat timbulkan masalah.
Begitu pula jika seseorang terlalu banyak ‘menulis’ produk baru di media sosial sehingga dengan cepat kehilangan kontrol pesan. Tahun lalu, Honda memunculkan halaman fans di Facebook. Namun bukannya menarik perhatian, forum ini penuh dengan komentar kritis soal desain mobil baru atau apapun produk Honda. Pada dasarnya, media sosial memang menarik perhatian, tapi termasuk pula komentar negatif.
Jim Durbin, kreator dari media sosial aheadhunter.com, mengatakan berdasarkan pengalaman sebagai direktur media sosial, strategi bisnis ini mampu mengidentifikasi kebutuhan perusahaan.
Mereka akan membantu perusahaan menggunakan alat jejaring sosial dengan baik. Cara bisnis ini bagi aheadhunter.com bisa meraup keuntungan US$120 ribu (Rp1,1 miliar). Jumlah ini akan terus meningkat.
Nilai tinggi ini disebabkan perangkat profesi mereka gratis, sebuah keuntungan bagi para manager media sosial baru di mana seringkali terbentur oleh dana operasional. Salah satu cara adalah bekerja sama dengan departemen marketing lain untuk menciptakan kampanye lewat media sosial. Salah satunya pemanfaatan ‘brand ambassador’ dari perusahaan tersebut sebagai cara marketing strategis.
“Masyarakat sering kali tidak lagi mempercayai perusahaan,” ujar Scott Monty, kepala media sosial di Ford. “Mereka mempercayai ahli pihak ketiga. Kami percaya bahwa strategi media sosial Ford akan lebih ‘manusia’ jika menggunakan platform seperti Twitter. Pada dasarnya ini merupakan jejaring sosial paling pribadi,” tambah Monty.
Twitter merupakan bentuk komunikasi antar pribadi dalam lingkup publik sehingga interaksi seseorang dengan perusahaan besar seperti Ford misalnya, dapat menumbuhkan persepsi bahwa Ford mendengarkan mereka, tandas Monty. [mdr]

PENTINGNYA SOSIALISASI POLITIK DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK

Kehidupan manusia di dalam masyarakat, memiliki peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial, senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lain dalam upaya mewujudkan kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia tidak cukup yang bersifat dasar, seperti makan, minum, biologis, pakaian dan papan (rumah). Lebih dari itu, juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian, pemberian upah kerja, status sebagai anggota masyarakat, anggota suatu partai politik tertentu dan sebagainya.
Setiap warga negara, dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik. Jika secara tidak langsung, hal ini sebatas mendengar informasi, atau berita-berita tentang peristiwa politik yang terjadi. Dan jika seraca langsung, berarti orang tersebut terlibat dalam peristiwa politik tertentu.
Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam interaksi antar warga negara dengan pemerintah, dan institusi-institusi di luar pemerintah (non-formal), telah menghasilkan dan membentuk variasi pendapat, pandangan dan pengetahuan tentang praktik-praktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Oleh karena itu, seringkali kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-pengetahuan, perasaan dan sikap warga negara terhadap negaranya, pemerintahnya, pemimpim politik dan lai-lain.
Budaya politik, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijakan pemerintah, kegiatan partai-partai politik, perilaku aparat negara, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang me­merintah.
Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial, kehidupan pribadi dan sosial secara luas. Dengan demikian, budaya politik langsung mempengaruhi kehidupan politik dan menentukan keputusan nasional yang menyangkut pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat.
A. PENTINGNYA SOSIALISASI POLITIK DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK
1. PENGERTIAN SOSIALISASI POLITIK
Sosialisasi politik adalah cara-cara belajar seseorang terhadap pola-pola sosial yang berkaitan dengan posisi-posisi kemasyarakatan seperti yang diketengahkan melalui bermacam-macam badan masyarakat.
Almond dan Powell, sosialisasi politik sebagai proses dengan mana sikap-sikap dan nilai-nilai politik ditanamkan kepada anak-anak sampai metreka dewasa dan orang-orang dewasa direkrut ke dalam peranan-peranan tertentu.
Greenstein dalam karyanya “International Encyolopedia of The Social Sciences” 2 definisi sosialisasi politik:
a. Definisi sempit, sosialisasi politik adalah penanaman informasi politik yang disengaja, nilai-nilai dan praktek-praktek yang oleh badan-badan instruksional secara formal ditugaskan untuk tanggung jawab ini.
b. Definisi luas, sosialisasi politik merupakan semua usaha mempelajari politik baik formal maupun informal, disengaja ataupun terencana pada setiap tahap siklus kehidupan dan termasuk didalamnya tidak hanya secara eksplisit masalah belajar politik tetapi juga secara nominal belajat bersikap non politik mengenai karakteristik-karakteristik kepribadian yang bersangkutan.
Easton dan Denuis, sosialisasi politik yaitu suatu proses perkembangan seseorang untuk mendapatkan orientasi-orientasi politik dan pola-pola tingkah lakunya.
Almond, sosialisasi politik adalah proses-proses pembentukan sikap-sikap politik dan pola-pola tingkah laku.
Proses sosialisasi dilakukan melalui berbagai tahap sejak dari awal masa kanak-kanak sampai pada tingkat yang paling tinggi dalam usia dewasa. Sosialisasi beroperasi pada 2 tingkat:
a. Tingkat Komunitas
Sosialisasi dipahami sebagai proses pewarisan kebudayaan, yaitu suatu sarana bagi suatu generasi untuk mewariskan nilai-nilai, sikap-sikap dan keyakinan-keyakinan politik kepada generasi berikutnya.
b.Tingkat Individual Proses sosialisasi politik dapat dipahami sebagai proses warga suatu Negara membentuk pandangan-pandangan politik mereka.
Dalam konsep Freud, individu dilihat sebagai objek sosilaisasi yang pasif sedangkan Mead memandang individu sebagai aktor yang aktif, sehingga proses sosialisasi politik merupakan proses yang beraspek ganda. Di satu pihak, ia merupakan suatu proses tertutupnya pilihan-pilihan perilaku, artinya sejumlah kemungkinan terbuka yang sangat luas ketika seorang anak lahir menjadi semakin sempit sepanjang proses sosialisasi. Di lain pihak, proses sosialisasi bukan hanya merupakan proses penekanan
2. METODE SOSIALISASI POLITIK ( oleh Rush dan Althoff)
1. Imitasi
Peniruan terhadap tingkah laku individu-individu lain. Imitasi penting dalam sosialisasi masa kanak-kanak. Pada remaja dan dewasa, imitasi lebih banyakbercampur dengan kedua mekanisme lainnya, sehingga satu derajat peniruannya terdapat pula pada instruksi mupun motivasi.
2. Instruksi
Peristiwa penjelasan diri seseornag dengan sengaja dapat ditempatkan dalam suatu situasi yang intruktif sifatnya.
3. Motivasi
Sebagaimana dijelaskan Le Vine merupakan tingkah laku yang tepat yang cocok yang dipelajari melalui proses coba-coba dan gagal (trial and error).
Jika imitasi dan instruksi merupakan tipe khusus dari pengalaman, sementara motivasi lebih banyak diidentifikasikan dengan pengalaman pada umumnya.
Sosialisasi politik yang selanjutnya akan mempengaruhi pembentukan jati diri politik pada seseorang dapat terjadi melalui cara langsung dan tidak langsung. Proses tidak langsung meliputi berbagai bentuk proses sosialisasi yang pada dasarnya tidak bersifat politik tetapi dikemudian hari berpengatuh terhadap pembentukan jati diri atau kepribadian politik. Sosialisasi politik lnagsung menunjuk pada proses-proses pengoperan atau pembnetukan orientasi-orientasi yang di dalam bentuk dan isinya bersifat politik.
Proses sosialisasi politik tidak langsung meliputi metode belajar berikut:
1. Pengoperasian Interpersonal
Mengasumsikan bahwa anak mengalami proses sosialisasi politik secara eksplisitdalam keadaan sudah memiliki sejumlah pengalaman dalam hubungna-hubungan dan pemuasan-pemuasan interpersonal.
2. Magang
Metode belajat magang ini terjadi katrna perilau dan pengalaman-pengalaman yang diperoleh di dalam situasi-situasi non politik memberikan keahlian-keahlian dan nilai-nilai yang pada saatnya dipergunakan secara khusus di dalam konteks yang lebih bersifat politik.
3. Generalisasi
Terjadi karena nilai-nilai social diperlakukan bagi bjek-objek politik yang lebih spesifik dan dengan demikian membentuk sikap-sikap politik terentu.
Proses sosialisasi langsung terjadi melalui:
1) Imitasi
Merupakan mode sosiaisasi yang paling ekstensif dan banyak dialami anak sepanjang perjalanan hidup mereka. Imitasi dapat dilakukan secara sadar dan secara tidak sadar.
2) Sosialisasi Politik Antisipatoris
Dilakukan untuk mengantisipasi peranan-peranan politik yang diinginkan atau akan diemban oleh actor. Orang yang berharap suatu ketika menjalani pekerjaan-pekerjaan professional atau posisi social yang tinggi biasanya sejak dini sudah mulai mengoper nilai-nilai dan pola-pola perilaku yang berkaitan dengan peranan-peranan tersebut.
3) Pendidikan Politik
Inisiatif mengoper orientasi-orientasi politik dilakukan oleh “socialiers” daripada oleh individu yang disosialisasi. Pendidikan politik dapat dilakukan di keluarga, sekolah, lembaga-lembaga politik atau pemerintah dan berbagai kelompok dan organisasi yang tidak terhitung jumlahnya. Pendidikan politik sangat penting bagi kelestarian suatu system politik. Di satu pihak, warga Negara memerukan informasi minimaltentang hak-hak dan kewajiban yang mereka mliki untuk dapat memasuki arena kehidupan politik. Di lain pihak, warga Negara juga harus memperoleh pengetahuan mengenai seberapa jauh hak-hak mereka telah dipenuhi oleh pemerintah dan jika hal ini terjadi, stabilitas politik pemerintahan dapat terpelihara.
4) Pengalaman Politik
Kebanyakan dari apa yang oleh seseorang diketahui dan diyakini sebagai politik pada kenyataannya berasal dari pengamatan-pengamatan dan pengalamn-pengalamannya didalam proses politik.
3. SARANA SOSIALISASI POLITIK

1. Keluarga
Merupakan agen sosialisasi pertama yang dialami seseorang. Keluarga memiliki pengaruh besar terhadap anggota-anggotanya. Pengaruh yang paling jelas adalah dalam hal pembentukan sikap terhadap wewenang kekuasaan. Bagi anak, keputusan bersama yang dibuat di keluarga bersifat otoritatif, dalam arti keengganan untuk mematuhinya dapat mendatangkan hukuman. Pengalaman berpartisipasi dalam pembuatan keputusan keluarga dapat meningkatkan perasaan kompetensi politik si anak, memberikannya kecakapan-kecakapan untuk melakukan interaksi politik dan membuatnya lebih mungkin berpartisipasi secara aktif dalam sistem politik sesudah dewasa.
2. Sekolah
Sekolah memainkan peran sebagai agen sosialisasi politik melalui kurikulum pengajaran formal, beraneka ragam kegiatan ritual sekolah dan kegiatan-kegiatan guru.
Sekolah melalui kurikulumnya memberikan pandangan-pandangan yang kongkrit tentang lembaga-lembaga politik dan hubungan-hubungan politik. Ia juga dapat memegang peran penting dalam pembentukan sikap terhadap aturan permainan politik yang tak tertulis. Sekolah pun dapat mempertebal kesetiaan terhadap system politik dan memberikan symbol-simbol umum untuk menunjukkan tanggapan yang ekspresif terhadap system tersebut.
Peranan sekolah dalam mewariskan nilai-nilai politik tidak hanya terjadi melalui kurikulum sekolah. Sosialisasi juga dilakukan sekolah melalui berbagai upacara yang diselenggarakan di kelas maupun di luar kelas dan berbagai kegiatan ekstra yang diselenggarakan oleh OSIS.
3. Kelompok Pertemanan (Pergaulan)
Kelompok pertemanan mulai mengambil penting dalam proses sosialisasi politik selama masa remaja dan berlangsung terus sepanjang usia dewasa. Takott Parson menyatakan kelompok pertemanan tumbuh menjadi agen sosialisasi politik yang sangat penting pada masa anak-anak berada di sekolah menengah atas. Selama periode ini, orang tua dan guru-guru sekolah sebagai figur otoritas pemberi transmitter proses belajar sosial, kehilangan pengaruhnya. Sebaliknya peranan kelompok-kelompok klik, gang-gang remaja dan kelompok-kelompok remaja yang lain menjadi semakin penting. Pengaruh sosialisasi yang penting dari kelompok pertemanan bersumber di dalam factor-faktor yang membuat peranan keluarga menjadi sangat penting dalam sosialisasi politik yaitu:
a. Akses yang sangat ekstensif dari kelompok-kelompok pertemanan terhadap anggota mereka.
b. Hubungan-hubungan pribadi yang secara emosional berkembang di dalamnya.
Kelompok pertemanan mempengaruhi pembentukan orientasi politik individu melalui beberapa cara yaitu:
a. Kelompok pertemanan adalah sumber sangat penting dari informasi dan sikap-sikpa tentang dunia social dan politik. Kelompok pertemanan berfungsi sebagai “communication channels”.
b. Kelompok pertemanan merupakn agen sosialisasi politik sangat penting karena ia melengkapi anggota-anggotanya dengan konsepsi politik yang lebih khusus tentang dunia politik.
c. Mensosialisasi individu dengan memotivasi atau menekan mereka untuk menyesuaikan diri dengan sikap-sikap dan perilaku yang diterima oleh kelompok. Di satu pihak, kelompok pertemanan menekan individu untuk menerima orientasi-orientasi dan perilaku tertentu dengna cara mengancam memberikan hukuman kepada mereka yang melakukan penyimpangan terhadap norma-norma keluarga, seperti melecehkan atau tidak menaruh perhatian kepad amereka yang menyimpang.
4. Pekerjaan
Organisasi-organisasi formal maupun non formal yang dibentuk berdasarkan lingkungan pekerjaan, seperti serikat buruh, klub social dan yang sejenisnya merupakan saluran komunikasi informasi dan keyakinan yang jelas.
5. Media Massa
Media massa seperti surat kabar, radio, majalah, televise dan internet memegang peran penting dalam menularkan sikap-sikap dan nilai-nilai modern kepada bangsa-bangsa baru merdeka. Selain memberikan infoprmasi tentang informasi-informasi politik, media massa juga menyampaika nilai-nili utama yang dianut oleh masyarakatnya.
6. Kontak-kontak Politik Langsung
Tidak peduli betapa positifnya pandangan terhadap system poltik yang telah ditanamkan oleh eluarga atau sekolah, tetapi bila seseorang diabaikan oleh partainya, ditipu oleh polisi, kelaparan tanpa ditolong, mengalami etidakadilan, atau teraniaya oleh militer, maka pandangan terhadap dunia politik sangat mungkin berubah.
4. PERANAN PARTAI POLITIK DALAM SOSIALISASI BUDAYA POLITIK
A. PENGERTIAN PARTAI POLITIK
Di bawah mi disampaikan beberapa definisi mengenai partai politik:
Carl J. Fredirch, mendefinisikan partai politik adalah:
“Sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan pengawasan terhadap pemerintah bagi pimpinan partainya dan berdasarkan pengawasan mi memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun material” (a political party is a group of human beings stability organized with the objective of giving to members of the party, trough such control ideal and material benefits and advantages.
Raymond Garfield Gettel memberi batasan bahwa:
“Partai politik terdiri dan sekelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisir, yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan yang dengan memakai kekuasaan memilih bertujuan mengawasi pemerintahan dan melaksanakan kebijakan umum mereka” (a political party of a group of citizens, more or less organized who act s political unit and who, by the use of their voting power and to control the government and carry out their general polingles.
Menurut George B Huszr dan Thomas H. Stevenson, partai politik adalah:
“Sekelompok orang-orang yang terorganisir untuk ikut serta
mengendalikan pemerintahan, agar dapat melaksanakan programnya dalam jabatan” (a political party is a group at people organized to sucure control ‘f government morder to puts program in to effect and it member in offce).”
Sigmund Neumann dalam karangannya “Modern Political Parties” bahwa definisi partai adalah:
“Organisasi dan aktivitas-aktivitas politik yang berusaha untuk menguasai pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan satu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda” (a political party terniiculate organization of society as active political agent those who are conserned with the control of the governmental power and who compete for popular support with another group holding divergent view).’2
Suatu batasajauh lebih sederhana dan batasan yang dikemukakan oleh Neumann, dikemukakan oleh RH. Soltau. Dalam hal mi Soultau menyatakan:
“Partai politik adalah sekelompok warga Negara yang sedikit banyak terorganisir, yang bertindak sebagai satu kesatuan politik dan yang dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih bertujuan untuk menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijakan umum mereka” (a political party is a group of citizen more or less organized, who act as a political unit and who, bay the use of their voting power, aim to control the government and carry out their general politicies). 13
Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggota mempunyai orientasi nilai-nilai dan citacita yang sama.
Menurut George B Huszr dan Thomas H. Stevenson, partai politik adalah:
“Sekelompok orang-orang yang terorganisir untuk ikut serta
mengendalikan pemerintahan, agar dapat melaksanakan programnya dalam jabatan” (a political party is a group at people organized to sucure control ‘f government morder to puts program in to effect and it member in offce).”
Sigmund Neumann dalam karangannya “Modern Political Parties” bahwa definisi partai adalah:
“Organisasi dan aktivitas-aktivitas politik yang berusaha untuk menguasai pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan satu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda” (a political party terniiculate organization of society as active political agent those who are conserned with the control of the governmental power and who compete for popular support with another group holding divergent view).’2
Suatu batasajauh lebih sederhana dan batasan yang dikemukakan oleh Neumann, dikemukakan oleh RH. Soltau. Dalam hal mi Soultau menyatakan:
“Partai politik adalah sekelompok warga Negara yang sedikit banyak terorganisir, yang bertindak sebagai satu kesatuan politik dan yang dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih bertujuan untuk menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijakan umum mereka” (a political party is a group of citizen more or less organized, who act as a political unit and who, bay the use of their voting power, aim to control the government and carry out their general politicies). 13
Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggota mempunyai orientasi nilai-nilai dan citacita yang sama.
B. MACAM – MACAM PARTAI POLITIK
Menurut Haryanto, parpol dari segi komposisi dan fungsi keanggotaannya secara umum dapat dibagi mejadi dua kategori, yaitu:
1. Partai Massa,
dengan ciri utamanya adalah jumlah anggota atau pendukung yang banyak. Meskipun demikian, parta jenis ini memiliki program walaupun program tersebut agak kabur dan terlampau umum. Partai jenis ini cenderung menjadi lemah apabila golongan atau kelompok yang tergabung dalam partai tersebut mempunyai keinginan untuk melaksanakan kepentingan kelompoknya. Selanjutnya, jika kepentingan kelompok tersebut tidak terakomodasi, kelompok ini akan mendirikan partai sendiri;
2. Partai Kader,
kebalikan dari partai massa, partai kader mengandalkan kader-kadernya untuk loyal. Pendukung partai ini tidak sebanyak partai massa karena memang tidak mementingkan jumlah, partai kader lebih mementingkan disiplin anggotanya dan ketaatan dalam berorganisasi. Doktrin dan ideologi partai harus tetap terjamin kemurniannya. Bagi anggota yang menyeleweng, akan dipecat keanggotaannya.
(Haryanto: dalam buku suntingan Toni Adrianus Pito, Efriza, dan Kemal Fasyah; Mengenal Teori-Teori Politik. Cetakan I November 2005, Depok. Halaman 567-568)
Sedangkan tipologi berdasarkan tingkat komitmen partai terhadap ideologi dan kepentingan, menurut Ichlasul Amal terdapat lima jenis partai politik, yakni:
1. Partai Proto,
adalah tipe awal partai politik sebelum mencapai tingkat perkembangan seperti dewasa ini. Ciri yang paling menonjol partai ini adalah pembedaan antara kelompok anggota atau “ins” dengan non-anggota “outs”. Selebihnya partai ini belum menunjukkan ciri sebagai partai politik dalam pengertian modern. Karena itu sesungguhnya partai ini adalah faksi yang dibentuk berdasarkan pengelompokkan ideologi masyarakat;
2. Partai Kader,
merupakan perkembangan lebih lanjut dari partai proto. Keanggotaan partai ini terutama berasal dari golongan kelas menengah ke atas. Akibatnya, ideologi yang dianut partai ini adalah konservatisme ekstrim atau maksimal reformis moderat;
3. Partai Massa, muncul saat terjadi perluasan hak pilih rakyat sehingga dianggap sebagai respon politis dan organisasional bagi perluasan hak-hak pilih serta pendorong bagi perluasan lebih lanjut hak-hak pilih tersebut. Partai massa berorientasi pada pendukungnya yang luas, misalnya buruh, petani, dan kelompok agama, dan memiliki ideologi cukup jelas untuk memobilisasi massa serta mengembangkan organisasi yang cukup rapi untuk mencapai tujuan-tujuan ideologisnya;
4. Partai Diktatorial,
sebenarnya merupakan sub tipe dari parti massa, tetapi meliki ideologi yang lebih kaku dan radikal. Pemimpin tertinggi partai melakukan kontrol yang sangat ketat terhadap pengurus bawahan maupun anggota partai. Rekrutmen anggota partai dilakukan secara lebih selektif daripada partai massa;
5. Partai Catch-all,
merupakan gabungan dari partai kader dan partai massa. Istilah Catch-all pertama kali di kemukakan oleh Otto Kirchheimer untuk memberikan tipologi pada kecenderungan perubahan karakteristik. Catch-all dapat diartikan sebagai “menampung kelompok-kelompok sosial sebanyak mungkin untuk dijadikan anggotanya”. Tujuan utama partai ini adalah memenangkan pemilihan dengan cara menawarkan program-program dan keuntungan bagi anggotanya sebagai pengganti ideologi yang kaku
(Ichlasul Amal. Teori-teori Mutakhir Partai Politik Edisi Revisi. Penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta, 1996)
Menurut Peter Schroder, tipologi berdasarkan struktur organisasinya terbagi menjadi tiga macam yaitu;
1. Partai Para Pemuka Masyarakat, berupa gabungan yang tidak terlalu ketat, yang pada umumnya tidak dipimpin secara sentral ataupun profesional, dan yang pada kesempatan tertentu sebelum pemilihan anggota parlemen mendukung kandidat-kandidat tertentu untuk memperoleh suatu mandat;
2. Partai Massa, sebagai jawaban terhadap tuntutan sosial dalam masyarakat industrial, maka dibentuklah partai-partai yang besar dengan banyak anggota dengan tujuan utama mengumpulkan kekuatan yang cukup besar untuk dapat membuat terobosan dan mempengaruhi pemerintah dan masyarakat, serta “mempertanyakan kekuasaan”;
3. Partai Kader, partai ini muncul sebagai partai jenis baru dengan berdasar pada Lenin. Mereka dapat dikenali berdasarkan organisasinya yang ketat, juga karena mereka termasuk kader/kelompok orang terlatih yang personilnya terbatas. Mereka berpegangan pada satu ideologi tertentu, dan terus menerus melakukan pembaharuan melalui sebuah pembersihan yang berkseninambungan.
C. SISTEM KEPARTAIAN
Sistem kepartaian adalah “pola kompetisi terus-menerus dan bersifat stabil, yang selalu tampak di setiap proses pemilu tiap negara.” Sistem kepartaian bergantung pada jenis sistem politik yang ada di dalam suatu negara. Selain itu, ia juga bergantung pada kemajemukan suku, agama, ekonomi, dan aliran politik yang ada. Semakin besar derajat perbedaan kepentingan yang ada di negara tersebut, semakin besar pula jumlah partai politik. Selain itu, sistem-sistem politik yang telah disebutkan, turut mempengaruhi sistem kepartaian yang ada.
Sistem kepartaian belumlah menjadi seni politik yang mapan. Artinya, tata cara melakukan klasifikasi sistem kepartaian belum disepakati oleh para peneliti ilmu politik. Namun, yang paling mudah dan paling banyak dilakukan peneliti adalah menurut jumlah partai yang berkompetisi dalam sistem politik.
Sistem partai di Negara manapun dalam suatu jangka waktu tertentu memiliki persamaan – persamaan dan perbedaan – perbedaan sistem yaitu;
  1. sistem partai pluralistis
  2. sistem partai dominant
D. SYARAT – SYARAT PENDIRIAN PARTAI POLITIK
1. Partai politik harus didirikan oleh paling sedikit 50 (lima puluh) orang
warga negara Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun.
2. Dalam pendirian dan pembentukan partai politik harus menyertakan
30% (tiga puluh persen) keterwakilan perempuan.
3. Pendirian Partai Politik harus disertai dengan akta notaris. Dalam akta
notaris tersebut harus memuat Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran
Rumah Tangga (ART) serta kepengurusan partai politik tingkat pusat.
4. Anggaran Dasar (AD) partai politik memuat paling sedikit:
a. asas dan ciri partai politik;
b. visi dan misi partai politik
c. nama, lambang, dan tanda gambar partai politik;
d. tujuan dan fungsi partai politik;
e. organisasi, tempat kedudukan, dan pengambilan keputusan;
f. kepengurusan partai politik;
g. peraturan dan keputusan partai politik;
h. pendidikan politik; dan
i. keuangan partai politik
4. Kepengurusan partai politik tingkat pusat disusun dengan
menyertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen)
keterwakilan perempuan.
5. Kepengurusan partai politik tingkat provinsi dan kabupaten/kota
disusun dengan memperhatikan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh
persen) keterwakilan perempuan yang diatur dalam AD dan ART partai
politik masing-masing.
E. TUJUAN PARTAI POLITIK
Tujuan umum Partai Politik adalah :
a. Mewujudkan cita-cita nasional Bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945;
b. Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
c. Tujuan khusus Partai Politik adalah memperjuangkan cita-cita para anggotanya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
F. FUNGSI PARTAI POLITIK
Adapun fungsi partai politik, menurut Sigmund Neumann (1981), ada 4 (empat) yaitu :
1. fungsi agregasi.
Partai menggabungkan dan mengarahkan kehendak umum masyarakat yang kacau. Sering kali masyarakat merasakan dampak negatif suatu kebijakan pemerintah, misalnya kenaikan BBM di Indonesia 1 Oktober 2005 lalu yang demikian tinggi. Namun ketidakpuasan mereka kadang diungkapkan dengan berbagai ekspresi yang tidak jelas dan bersifat sporadis. Maka partai mengagregasikan berbagai reaksi dan pendapat masyarakat itu menjadi suatu kehendak umum yang terfokus dan terumuskan dengan baik.
2. fungsi edukasi.
Partai mendidik masyarakat agar memahami politik dan mempunyai kesadaran politik berdasarkan ideologi partai. Tujuannya adalah mengikutsertakan masyarakat dalam politik sedemikian sehingga partai mendapat dukungan masyarakat. Cara yang ditempuh misalnya dengan memberi penerangan atau agitasi menyangkut kebijakan negara serta menjelaskan arah mana yang diinginkan partai agar masyarakat turut terlibat perjuangan politik partai.
3. fungsi artikulasi.
Partai merumuskan dan menyuarakan (mengartikulasikan) berbagai kepentingan masyarakat menjadi suatu usulan kebijakan yang disampaikan kepada pemerintah agar dijadikan suatu kebijakan umum (public policy). Fungsi ini sangat dipengaruhi oleh jumlah kader suatu partai, karena fungsi ini mengharuskan partai terjun ke masyarakat dalam segala tingkatan dan lapisan. Bila fungsi ini dilakukan ditambah dengan fungsi edukasi, ia akan menjadi komunikasi dan sosialisasi politik yang sangat efektif dari partai yang selanjutnya akan menjadi lem perekat antara partai dan massa.
4. fungsi rekrutmen.
Ini berarti partai melakukan upaya rekrutmen, baik rekrutmen politik dalam arti mendudukan kader partai ke dalam parlemen yang menjalankan peran legislasi dan koreksi maupun ke dalam lembaga-lembaga pemerintahan, maupun rekrutmen partai dalam arti menarik individu masyarakat untuk menjadi kader baru ke dalam partai. Rekrutmen politik dilakukan dengan jalan mengikuti pemilihan umum dalam segala tahapannya hingga proses pembentukan kekuasaan. Karenanya, fungsi ini sering disebut juga fungsi representasi.
Sedangkan menurut Roy Macridis, fungsi-fungsi partai sebagai berikut: (a) Representatif (perwakilan), (b) Konvensi dan Agregasi, (c) Integrasi (partisipasi, sosialisasi, mobilisasi), (d) Persuasi, (e) Represi, (f) Rekrutmen, (g) Pemilihan pemimpin, (h) Pertimbangan-pertimbangan, (i) Perumusan kebijakan, serta (j) Kontrol terhadap pemerintah. (Macridis : dalam buku karya Ichlasul Amal, Teori-teori Mutakhir Partai Politik. Penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta, 1988).
G. HAK PARTAI POLITIK
  1. Perlakuan sama adil, sederajat dari negara
  2. Mengatur RTO secara mandiri
  3. Ikut pemilu
  4. Mencalonkan pres & wapres dll.
H. KEWAJIBAN PARTAI POLITIK
  1. Mengamalkan Pancasila dan UUD 1945
  2. Menjaga keutuhan NKRI
  3. Menjunjung tinggi hukum, demokrasi, HAM
  4. Menyukseskan PEMILU dan Pembangunan dll.
B. PERAN SERTA BUDAYA POLITIK PARTISIPAN
Partisipasi secara harafiah berarti keikutsertaan, dalam konteks politik hal ini mengacu pada pada keikutsertaan warga dalam berbagai proses politik. Keikutsertaan warga dalam proses politik tidaklah hanya berarti warga mendukung keputusan atau kebijakan yang telah digariskan oleh para pemimpinnya, karena kalau ini yang terjadi maka istilah yang tepat adalah mobilisasi politik. Partisipasi politik adalah keterlibatan warga dalam segala tahapan kebijakan, mulai dari sejak pembuatan keputusan sampai dengan penilaian keputusan, termasuk juga peluang untuk ikut serta dalam pelaksanaan keputusan.
Konsep partisipasi politik ini menjadi sangat penting dalam arus pemikiran deliberative democracy atau demokrasi musawarah. Pemikiran demokrasi musyawarah muncul antara lain terdorong oleh tingginya tingkat apatisme politik di Barat yang terlihat dengan rendahnya tingkat pemilih (hanya berkisar 50 – 60 %). Besarnya kelompok yang tidak puas atau tidak merasa perlu terlibat dalam proses politik perwakilan menghawatirkan banyak pemikir Barat yang lalu datang dengan konsep deliberative democracy.
Di Indonesia saat ini penggunaan kata partisipasi (politik) lebih sering mengacu pada dukungan yang diberikan warga untuk pelaksanaan keputusan yang sudah dibuat oleh para pemimpin politik dan pemerintahan. Misalnya ungkapan pemimpin “Saya mengharapkan partispasi masyarakat untuk menghemat BBM dengan membatasi penggunaan listrik di rumah masihng-masing”. Sebaliknya jarang kita mendengar ungkapan yang menempatkan warga sebagai aktor utama pembuatan keputusan.
Dengan meilhat derajat partisipasi politik warga dalam proses politik rezim atau pemerintahan bisa dilihat dalam spektrum:
  • Rezim otoriter – warga tidak tahu-menahu tentang segala kebijakan dan keputusan politik
  • Rezim patrimonial – warga diberitahu tentang keputusan politik yang telah dibuat oleh para pemimpin, tanpa bisa mempengaruhinya.
  • Rezim partisipatif – warga bisa mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh para pemimpinnya.
  • Rezim demokratis – warga merupakan aktor utama pembuatan keputusan politik.
1. PENYEBAB TIMBULNYA GERAKAN KEARAH PARTISIPASI POLITIK

Menurut Myron Weiner, terdapat lima penyebab timbulnya gerakan ke arah partisipasi lebih luas dalam proses politik, yaitu sebagai berikut :
a. Modernisasi dalam segala bidang kehidupan yang menyebabkan masyarakat makin banyak menuntut untuk ikut dalam kekuasaan politik.
b. Perubahan-perubahan struktur kelas sosial. Masalah siapa yang berhak berpartisipasi dan pembuatan keputusan politik menjadi penting dan mengakibatkan perubahan dalam pola partisipasi politik.
c. Pengaruh kaum intelektual dan kemunikasi masa modern. Ide demokratisasi partisipasi telah menyebar ke bangsa-bangsa baru sebelum mereka mengembangkan modernisasi dan industrialisasi yang cukup matang.
d. Konflik antar kelompok pemimpin politik, jika timbul konflik antar elite, maka yang dicari adalah dukungan rakyat. Terjadi perjuangan kelas menentang melawan kaum aristokrat yang menarik kaum buruh dan membantu memperluas hak pilih rakyat.
e. Keterlibatan pemerintah yang meluas dalam urusan sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Meluasnya ruang lingkup aktivitas pemerintah sering merangsang timbulnya tuntutan-tuntutan yang terorganisasi akan kesempatan untuk ikut serta dalam pembuatan keputusan politik.
2. JENIS – JENIS PARTISIPASI POLITIK
Partisipasi politik sangat terkait erat dengan seberapa jauh demokrasi diterapkan dalam pemerintahan. Negara yang telah stabil demokrasinya, maka biasanya tingkat partisipasi politik warganya sangat stabil, tidak fluktuatif. Negara yang otoriter kerap memakai kekerasan untuk memberangus setiap prakarsa dan partisipasi warganya. Karenanya, alih-alih bentuk dan kuantitas partisipasi meningkat, yang terjadi warga tak punya keleluasaan untuk otonom dari jari-jemari kekuasaan dan tak ada partisipasi sama sekali dalam pemerintahan yang otoriter. Negara yang sedang meniti proses transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi galib disibukkan dengan frekuensi partisipasi yang meningkat tajam, dengan jenis dan bentuk partisipasi yang sangat banyak, mulai dari yang bersifat “konstitusional” hingga yang bersifat merusak sarana umum.
Karena begitu luasnya cakupan tindakan warga negara biasa dalam menyuarakan aspirasinya, maka tak heran bila bentuk-bentuk partisipasi politik ini sangat beragam. Secara sederhana, jenis partisipasi politik terbagi menjadi dua: Pertama, partisipasi secara konvensional di mana prosedur dan waktu partisipasinya diketahui publik secara pasti oleh semua warga. Kedua, partisipasi secara non-konvensional. Artinya, prosedur dan waktu partisipasi ditentukan sendiri oleh anggota masyarakat yang melakukan partisipasi itu sendiri (PPIM, 2001).
Jenis partisipasi yang pertama, terutama pemilu dan kampanye. Keikutsertaan dan ketidakikutsertaan dalam pemilu menunjukkan sejauhmana tingkat partisipasi konvensional warganegara. Seseorang yang ikut mencoblos dalam pemilu, secara sederhana, menunjukkan komitmen partisipasi warga. Tapi orang yang tidak menggunakan hak memilihnya dalam pemilu bukan berarti ia tak punya kepedulian terhadap masalah-masalah publik. Bisa jadi ia ingin mengatakan penolakan atau ketidakpuasannya terhadap kinerja elite politik di pemerintahan maupun partai dengan cara golput.
Partisipasi politik yang kedua biasanya terkait dengan aspirasi politik seseorang yang merasa diabaikan oleh institusi demokrasi, dan karenanya, menyalurkannya melalui protes sosial atau demonstrasi. Wujud dari protes sosial ini juga beragam, seperti memboikot, mogok, petisi, dialog, turun ke jalan, bahkan sampai merusak fasilitas umum.
1. Partisipasi Politik di Negara Demokrasi
Di negara demokrasi, partisipasi dapat ditunjukan di pelbagai kegiatan. Biasanya dibagi – bagi jenis kegiatan berdasarkan intensitas melakukan kegiatan tersebut. Ada kegiatan yang yang tidak banyak menyita waktu dan yang biasanya tidak berdasarkan prakarsa sendiri besar sekali jumlahnya dibandingkan dengan jumlah orang yang secara aktif dan sepenuh waktu melibatkan diri dalam politik. Kegiatan sebagai aktivis politik ini mencakup antara lain menjadi pimpinan partai atau kelompok kepentingan.
Di Negara yang menganut paham demokrasi, bentuk partisipasi politik masyarakat yang paling mudah diukur adalah ketika pemilihan umum berlangsung. Prilaku warga Negara yang dapat dihitung itensitasnya adalah melalui perhitungan persentase orang yang menggunakan hak pilihnya ( voter turnout ) disbanding dengan warga Negara yang berhak memilih seluruhnya.
Di Amerika Serikat umumnya voter turnout lebih rendah dari Negara – Negara eropa barat. Orang Amerika tidak terlalu bergairah untuk member suara dalam pemilihan umum. Akan tetapi mereka lebih aktif mencari pemecahan berbagai masalah masyarakat serta lingkungan melalui kegiatan lain, dan menggabungkan diri dengan organisasi organisasi seperti organisasi politik, bisnis, profesi dan sebagainya.
2. Partisipasi Politik di Negara Otoriter
Di Negara otoriter seperti komunis, partisipasi masa diakui kewajarannya, karena secara formal kekuasaan ada di tangan rakyat. Tetapi tujuan yang utama dari partisipasi massa dalam masa pendek adalah untuk merombak masyarakat yang terbelakang menjadi masyarakat modern dan produktif. Hal ini memerlukan pengarahan yang ketat dari monopoli partai politik.
Terutama, persentase yang tinggi dalam pemilihan umum dinilai dapat memperkuat keabsahan sebuah rezim di mata dunia. Karena itu, rezim otoriter selalu mengusahakan agar persentase pemilih mencapai angka tinggi. Akan tetapi perlu diingat bahwa umumnya system pemilihan di Negara otoriter berbeda dengan system pemilihan di Negara Demokrasi, terutama karena hanya ada satu calon untuk setiap kursi yang diperebutkan, dan para calon tersebut harus melampaui suatu proses penyaringan yang ditentukan dan diselenggarakan oleh partai komunis.
Di luar pemilihan umum, partisipasi politik juga dapat di bina melalui organisasi – organisasi yang mencakup golongan pemuda, golongan buruh, serta organisasi – organisasi kebudayaan. Melalui pembinaan yang ketat potensi masayarakat dapat dimanfaatkan secara terkontrol. Partisipasi yang bersifat community action terutama di Uni soviet dan China sangat intensif dan luas. Melebihi kegiatan Negara demokrasi di Barat. Tetapi ada unsur mobilisasi partisipasi di dalamnya karena bentuk dan intensitas partisipasi ditentukan oleh partai.
Di Negara – Negara otoriter yang sudah mapan seperti China menghadapi dilema bagaimana memperluas partisipasi tanpa kehilangan kontrol yang dianggap mutlak diperlukan untuk tercapainya masyarakat yang diharapkan. Jika kontrol ini dikendorkan untuk meningkatkan partisipasi, maka ada bahaya yang nantinya akan menimbulkan konflik yang akan mengganggu stabilitas. Seperti yang dilakuakn oleh China di tahun 1956/1957. Pada saat itu dicetuskannya gerakan “Kampanye Seratus Bunga” yaitu dimana masyarakat diperbolehkan untuk menyampaikan kritik. Namun pengendoran kontrol ini tidak berlangsung lama, karena ternyata tajamnya kritik yang disuarakan dianggap mengganggu stabilitas nasional. Sesuda terjadi tragedy Tiananmen Square pada tahun 1989, ketika itu ratusan mahasiswa kehilangan nyawanya dalam bentrokan dengan aparat, dan akhirnya pemerintah memperketat kontrol kembali.
3. Partisipasi Politik di Negara Berkembang
Negara berkembang adalah negara – Negara baru yang ingin cepat mengadakan pembangunan untuk mengejar ketertinggalannya dari Negara maju. Hal ini dilakukan karena menurut mereka berhasil atau tidaknya pembangunan itu tergantung dari partisipasi rakyat. Peran sertanya masyarakat dapat menolong penanganan masalah – masalah yang timbul dari perbedaan etnis, budaya, status sosial, ekonomi, agama dan sebagainya. Pembentukan identitas nasional dan loyalitas diharapkan dapat menunjang pertumbuhannya melalui partisipasi politik.
Di beberapa Negara berkembang partisipasi bersifat otonom, artinya lahir dari diri mereka sendiri, masih terbatas. Oleh karena itu jika hal ini terjadi di Negara- Negara maju sering kali dianggap sebagai tanda adanya kepuasan terhadap pengelolaan kehidupan politik. Tetapi jika hal itu terjadi di Negara berkembang, tidak selalu demikian halnya. Di beberapa Negara yang rakyatnya apatis, pemerintah menghadapi menghadapi masalah bagaimana caranya meningkatkan partisipasi itu, sebab jika tidak partisipasi akan menghadapi jalan buntu, dapat menyebabkan dua hal yaitu menimbulkan anomi atau justru menimbulkan revolusi.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Partisipasi Politik Masyarakat
1. Faktor Sosial Ekonomi
Kondisi sosial ekonomi meliputi tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan jumlah keluarga.
2. Faktor Politik
Arnstein S.R (1969) peran serta politik masyarakat didasarkan kepada politik untuk menentukan suatu produk akhir. Faktor politik meliputi :
a. Komunikasi Politik.
Komunikasi politik adalah suatu komunikasi yang mempunyai konsekuensi politik baik secara aktual
maupun potensial, yang mengatur kelakuan manusia dalam keberadaan suatu konflik. (Nimmo, 1993:8). Komunikasi politik antara pemerintah dan rakyat sebagai interaksi antara dua pihak yang menerapkan etika (Surbakti, 1992:119)
.
b. Kesadaran Politik.
Kesadaran politik menyangkut pengetahuan, minat dan perhatian seseorang terhadap lingkungan
masyarakat dan politik (Eko, 2000:14). Tingkat kesadaran politik diartikan sebagai tanda bahwa warga masyarakat menaruh perhatian terhadap masalah kenegaraan dan atau pembangunan (Budiarjo, 1985:22).
c. Pengetahuan Masyarakat terhadap
Proses Pengambilan Keputusan. Pengetahuan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan akan menentukan corak dan arah suatu keputusan yang akan diambil (RamlanSurbakti 1992:196).
d. Kontrol Masyarakat terhadap Kebijakan Publik.
Kontrol masyarakat terhadap kebijakan publik yakni masyarakat menguasai
kebijakan publik dan memiliki kewenangan untuk mengelola suatu obyek kebijakan tertentu (Arnstein, 1969:215). Kontrol untuk mencegah dan mengeliminir penyalahgunaan kewenangan dalam keputusan politik (Setiono,2002:65). Arnstein1969:215), kontrol masyarakat dalam kebijakan publik adalah the power of directing. Juga mengemukakan ekspresi politik,
memberikan aspirasi atau masukan (ide, gagasan) tanpa intimidasi yang merupakan problem dan harapan rakyat (Widodo, 2000:192), untuk meningkatkan kesadaran kritis dan keterampilan masyarakat melakukan analisis dan pemetaan terhadap persoalan aktual dan merumuskan
agenda tuntutan mengenai pembangunan (Cristina, 2001:71).
3. Faktor Fisik Individu dan Lingkungan Faktor fisik individu sebagai sumber
kehidupan termasuk fasilitas serta ketersediaan pelayanan umum. Faktor lingkungan adalah kesatuan ruang dan semua benda, daya, keadaan, kondisi dan makhluk hidup, yang berlangsungnya berbagai kegiatan interaksi sosial antara berbagai kelompok beserta lembaga dan pranatanya (K. Manullang dan Gitting,1993:13).
4. Faktor Nilai Budaya
Gabriel Almond dan Sidney Verba (1999:25), Nilai budaya politik atau civic culture merupakan basis yang membentuk demokrasi, hakekatnya adalah politik baik etika politik maupun teknik (Soemitro 1999:27) atau peradapan masyarakat (Verba, Sholozman, Bradi, 1995). Faktor
nilai budaya menyangkut persepsi, pengetahuan, sikap, dan kepercayaan politik.
3. BUDAYA POLITIK PARTISIPAN
adalah salah satu jenis budaya politik bangsa. Budaya politik partisipan dicirikan dengan adanya orientasi yang tinggi terhadap semua objek politik, baik objek umum, input, output serta pribadinya sendiri selaku warga negara.
Pelaksanaan budaya politik partisipan juga dapat diterapkan oleh seorang pelajar dilingkungan sekolahnya.

sumber : http://zanas.wordpress.com

Serah Terima Tugas Pelaksana Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya

Setelah tiga tahun bertugas di KBRI Buenos Aires, Erna Herlina, Sekretaris Kedua, yang selama ini bertugas menangani masalah-masalah Penerangan dan Sosial Budaya, mengakhiri masa tugasnya tepat pada tanggal 31 Juli 2009. Tugas-tugas penerang dan sosial budaya selanjutnya diserahkan kepada Dewi Lestari, Sekretaris Ketiga, yang selama ini melaksanakan tugas sebagai staf pada fungsi ekonomi dalam acara serah terima tugas dan tanggung jawab yang dilakukan dihadapan Duta Besar RI untuk Argentina merangkap Paraguay dan Uruguay, para Home Staff, guru-guru bahasa Indonesia dan staf fungsi pensosbud.

Dalam sambutannya, Erna Herlina menyampaikan terima kasih atas bimbingan dari Duta Besar RI serta berbagai pihak yang telah membantunya dalam melaksanakan tugas. Dalam masa penugasannya Erna telah mengadakan berbagai kegiatan baik dalam skala kecil maupun besar antara lain pertunjukan seni dan budaya dalam rangka peringatan 50 tahun hubungan bilateral Indonesia-Argentina, pentas seni dan budaya Aceh pada tahun 2007 di Auditorium Belgrano serta pertunjukan senda tari Ramayana bekerja sama dengan Universidad Catolica Argentina (UCA) pada bulan Maret tahun yang lalu.

Pada kesempatan tersebut, Duta Besar RI menyampaikan penghargaan atas kerja keras yang telah ditunjukkan selama tiga setengah tahun. Diharapkan di masa depan kinerja tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Duta Besar RI juga mengatakan bahwa berbagai kritik yang selama ini diberikan bertujuan membina dan memperbaiki dan diharapkan dapat menjadi bekal dalam menapaki karir di dunia diplomasi Indonesia.

Selain acara serah terima tugas dan tanggung jawab, pada sore harinya diadakan pula acara perpisahan di KBRI Buenos Aires. Selain bagi Erna, acara ini ditujukan pula untuk perpisahan bagi Sofia Vaccarini, Kepala sekolah Escuela de la Republica de Indonesia yang memasuki masa pensiun, serta Atase Pertahanan KBRI Brazilia yang wilayah tugasnya merangkap pula Argentina, Kolonel Supomo, yang sedang berkunjung ke Buenos Aires dalam rangka berpamitan karena akan mengakhiri masa tugasnya.

Acara ini berlangsung haru dan meriah dengan penampilan BRAM, band remaja KBRI Buenos Aires, tari topeng serta berbagai hiburan lainnya. Dalam kesempatan ini hadir pula guru-guru dari Escuela de la Republica Indonesia, keluarga besar KBRI serta masyarakat Indonesia di Buenos Aires.

sumber : http://www.kbri-buenosaires.org.ar

Rasisme dan Darwinisme Sosial di Amerika

Rasisme dan Darwinisme Sosial di Amerika
Tidak hanya di Inggris, Darwinisme sosial juga memberikan dukungan bagi kaum rasis dan imperialis di negara-negara lain. Karenanya, paham ini tersebar dengan cepat ke seluruh dunia. Yang terdepan di antara para penganut teori tersebut adalah presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt. Roosevelt adalah pendukung terkemuka dan tokoh yang menerapkan program pembersihan etnis terhadap penduduk asli Amerika dengan dalih “pemindahan paksa”. Dalam buku The Winning of the West, ia merumuskan ideologi pembantaian, dan mengatakan bahwa peperangan antar ras hingga titik penghabisan melawan suku Indian sungguh tidak terelakkan.25 Yang menjadi sandaran utamanya adalah Darwinisme, yang telah memberikan dalih baginya untuk menganggap penduduk asli sebagai spesies terbelakang.
Sebagaimana perkiraan Roosevelt, tak satupun perjanjian dengan penduduk asli Amerika yang dihormati, dan ini pun mendapatkan pembenaran palsu dari teori “ras terbelakang”. Pada tahun 1871, Konggres mengabaikan semua perjanjian yang dibuat dengan penduduk asli Amerika dan memutuskan untuk membuang mereka ke daerah tandus, tempat mereka menunggu-nunggu saat datangnya kematian. Jika pihak lain tidak dianggap sebagai manusia, bagaimana mungkin perjanjian yang dibuat dengan mereka memiliki keabsahan?
Roosevelt juga mengemukakan bahwa peperangan antar ras sebagaimana disebutkan di atas merupakan tanda keberhasilan tersebarnya orang-orang berbahasa Inggris (Anglo-Saxons) ke seluruh dunia.26
Salah seorang pendukung utama rasisme Anglo-Saxon, pendeta evolusionis Protestan asal Amerika, Josiah Strong, memiliki jalan berpikir yang sama. Ia menulis perkataan berikut:
Kemudian dunia benar-benar akan memasuki babak baru dalam sejarahnya – kompetisi akhir di antara ras-ras di mana ras Anglo-Saxon tengah menjalani pelatihan untuk menghadapinya. Jika perkiraan saya tidak keliru, ras kuat ini akan bergerak memasuki Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan, bergerak keluar memasuki pulau-pulau yang ada di lautan, ke seberang memasuki Afrika dan seterusnya, dan menguasai semua wilayah. Dan adakah yang meragukan bahwa hasil kompetisi ini adalah “kelangsungan hidup bagi yang terkuat?”.27
Kaum rasis terkemuka yang menggunakan Darwinisme Sosial sebagai dalih adalah mereka yang memusuhi ras kulit hitam. Mereka mengelompokkan ras menjadi beberapa tingkatan, menempatkan ras kulit putih sebagai yang paling unggul dan kulit hitam sebagai yang paling primitif. Teori-teori rasis mereka ini sangat bersesuaian dengan teori evolusi.28
Salah seorang pakar teori rasis evolusionis terkemuka, Henry Fairfield Osborn, menulis dalam sebuah artikel berjudul The Evolution of Human Races bahwa “kecerdasan standar rata-rata orang Negro dewasa setara dengan anak muda Homo sapiens berusia sebelas tahun”29
Berdasarkan cara berpikir ini, orang-orang kulit hitam sama sekali bukan tergolong manusia. Pendukung gagasan rasis evolusionis yang terkenal lainnya, Carleton Coon, mengemuka-kan dalam bukunya The Origins of Race yang terbit pada tahun 1962 bahwa ras kulit hitam dan ras kulit putih adalah dua spesies berbeda yang telah berpisah satu sama lain pada zaman Homo erectus. Menurut Coon, ras kulit putih berevolusi lebih maju setelah pemisahan ini. Para pendukung diskriminasi terhadap ras kulit hitam telah menggunakan penjelasan ‘ilmiah’ ini sejak lama.
Keberadaan teori ilmiah yang mendu-kungnya telah meningkatkan pertumbuhan rasisme di Amerika dengan pesat. W.E. Dubois, yang dikenal sebagai penentang diskriminasi ras, menyatakan bahwa “permasalahan abad ke-20 adalah permasalahan tentang diskrimi-nasi warna kulit”. Menurutnya, kemunculan masalah rasisme yang sedemikian meluas di sebuah negara yang ingin menjadi paling demokratis di dunia, yang dalam beberapa hal tampak berhasil mencapainya, merupakan suatu keanehan yang cukup penting. Penghapusan perbudakan belumlah cukup untuk membangun persaudaraan di antara orang-orang kulit hitam dan kulit putih. Ia berpendapat bahwa diskriminasi resmi, yang dahulunya pernah diberlakukan dalam waktu singkat, pada masa sekarang telah menjadi suatu kenyataan dan keadaan yang sah secara hukum, yang jalan keluarnya masih dalam pencarian30
Kemunculan undang-undang diskriminasi ras pertama, yang dikenal sebagai “Undang-Undang Jim Crow” (Jim Crow digunakan oleh warga kulit putih sebagai salah satu nama celaan untuk orang kulit hitam) juga terjadi pada masa itu. Ras kulit hitam benar-benar tidak diperlakukan sebagaimana layaknya manusia, dipandang rendah dan diperlakukan dengan hina di mana-mana. Terlebih lagi, ini bukanlah sikap segelintir rasis secara orang per orang, namun telah ditetapkan sebagai kebijakan resmi negara Amerika dengan undang-undangnya tersendiri. Segera setelah dikeluarkannya undang-undang pertama yang menyetujui pemisahan ras pada kereta api dan trem di Tennessee pada tahun 1875, seluruh negara bagian di Selatan menerapkan pemisahan ini pada kereta api mereka. Tanda bertuliskan “Whites Only” (“Hanya Untuk Kulit Putih”) dan “Blacks” (“Kulit Hitam”) tergantung di mana-mana. Sebenarnya, semua ini hanyalah pemberian status resmi pada keadaan yang sebelumnya telah ada. Pernikahan antar ras yang berbeda dilarang. Menurut undang-undang yang berlaku, pemisahan ras wajib dilaksanakan di rumah sakit, penjara, dan tempat pemakaman. Pada penerapannya, peraturan ini juga merambah ke hotel, gedung pertunjukan, perpustakaan, bahkan lift dan gereja. Tempat di mana terjadi pemisahan ras paling jelas adalah sekolah. Penerapan kebijakan ini berdampak paling besar terhadap warga kulit hitam, dan merupakan penghalang utama bagi kemajuan peradaban mereka.
Penerapan kebijakan pemisahan ras diwarnai dengan gelombang kekerasan. Terjadi peningkatan tajam pada jumlah orang kulit hitam yang dihukum mati tanpa melalui proses pengadilan. Antara tahun 1890 dan 1901, sekitar 1.300 orang kulit hitam dihukum mati. Akibat perlakuan ini, orang-orang kulit hitam melakukan perlawanan di beberapa negara bagian.
Gagasan dan teori rasis mewarnai masa-masa tersebut. Tak lama kemudian, rasisme biologis Amerika diterapkan sebagaimana hasil penelitian yang dicapai R. B. Bean melalui metoda pengukuran tengkoraknya, dan dengan dalih melindungi penduduk benua baru tersebut dari gelombang migrasi tak terkendali, muncullah rasisme Amerika gaya . Madison Grant, pengarang buku The Passing of the Great Race (1916) menulis bahwa percampuran dua ras tersebut akan menyebabkan munculnya ras yang lebih primitif dibanding spesies berkelas rendah, dan ia menghendaki pelarangan atas perkawinan antar ras. 31
Rasisme telah ada di Amerika sebelum Darwin, sebagaimana halnya di seluruh dunia. Namun, seperti yang telah kita ketahui, Darwinisme memberikan dukungan nyata terhadap pandangan dan kebijakan rasis di paruh kedua abad ke-19. Sebagai contoh, sebagaimana yang telah kita pahami dalam bab ini, ketika para pendukung rasisme melontarkan pandangan mereka, mereka menggunakan pernyataan Darwinisme sebagai dalih. Gagasan yang dianggap biadab sebelum masa Darwin, kini mulai diterima sebagai hukum alam.


Kebijakan Biadab Pendukung Rasisme-Darwinisme
Pemusnahan Warga Aborigin

Penduduk asli benua Australia dikenal dengan sebutan Aborigin. Orang-orang yang telah mendiami benua tersebut selama ribuan tahun mengalami salah satu pemusnahan terbesar sepanjang sejarah seiring dengan penyebaran para pendatang Eropa di benua tersebut. Alasan ideologis pemusnahan ini adalah Darwinisme. Pandangan para ideolog Darwinis tentang suku aborigin telah memunculkan teori kebiadaban yang harus diderita mereka.
Pada tahun 1870, Max Muller, seorang antropolog evolusionis dari London Anthropological Review, membagi ras manusia menjadi tujuh tingkatan. Aborigin berada di urutan terbawah, dan ras Arya, yaitu orang kulit putih Eropa, di urutan teratas. H.K. Rusden, seorang Darwinis Sosial terkenal, mengemukakan pendapat-nya tentang suku aborigin pada tahun 1876 sebagaimana berikut:
Kelangsungan hidup bagi yang terkuat memiliki arti: kekuatan adalah kebenaran. Dan dengan demikian kita gunakan hukum seleksi alam yang tidak pernah berubah tersebut dan menerapkannya tanpa perasaan belas kasih ketika memus-nahkan ras-ras terbelakang Australia dan Maori...dan kita rampas warisan leluhur mereka tanpa merasa bersalah. 32
Pada tahun 1890, Wakil Presiden Royal Society of Tasmania, James Barnard, menulis: “proses pemusnahan adalah sebuah aksioma hukum evolusi dan keberlangsungan hidup bagi yang terkuat.” Oleh sebab itu, ia menyimpulkan, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa “ada tindakan yang patut dicela” dalam pembunuhan dan perampasan terhadap warga aborigin Australia.33
Akibat pandangan rasis, yang tak mengenal belas kasih, dan biadab yang dikemukakan Darwin, pembantaian dasyat dimulai dengan tujuan memusnahkan warga aborigin. Kepala orang-orang aborigin dipasang menggunakan paku di atas pintu-pintu stasiun. Roti beracun diberikan kepada para keluarga aborigin. Di banyak wilayah di Australia, areal pemukiman aborigin musnah dengan cara biadab dalam waktu 50 tahun.34
Kebijakan yang ditujukan terhadap aborigin tidak berakhir dengan pembantaian. Banyak dari ras ini yang diperlakukan layaknya hewan percobaan. The Smithsonian Institute di Washington D.C. menyimpan 15.000 sisa mayat manusia dari berbagai ras. Sejumlah 10.000 warga aborigin Australia dikirim melalui kapal ke Musium Inggris dengan tujuan untuk mengetahui apakah benar mereka adalah “mata rantai yang hilang” dalam peralihan bentuk binatang ke bentuk manusia.
Musium tidak hanya tertarik dengan tulang-belulang, pada saat yang sama mereka menyimpan otak orang-orang aborigin dan menjualnya dengan harga mahal. Terdapat pula bukti bahwa warga aborigin Australia dibunuh untuk digunakan sebagai bahan percobaan. Kenyataan sebagaimana dipaparkan di bawah ini adalah saksi kekejaman tersebut:
Sebuah catatan akhir hayat dari Korah Wills, yang menjadi mayor Bowen, Queensland pada tahun 1866, secara jelas menggambarkan bagaimana ia membunuh dan memotong-motong tubuh seorang anggota suku setempat pada tahun 1865 untuk menyediakan bahan percobaan ilmiah.
Edward Ramsay, kepala Musium Australia di Sydney selama 20 tahun sejak 1874, terlibat secara khusus. Ia menerbitkan sebuah buku saku Musium yang memasukkan aborigin dalam golongan “binatang-binatang Australia”. Buku kecil tersebut itu juga memberikan petunjuk tidak hanya tentang cara bagaimana merampok kuburan, namun juga bagaimana menutup luka akibat peluru pada “spesimen” yang baru terbunuh.
Evolusionis Jerman, Amalie Dietrich (yang dijuluki ‘Angel of Black Death’ atau ‘Malaikat Kematian si Hitam’) datang ke Australia untuk meminta kepada para pemilik areal pertanian sejumlah orang Aborigin untuk ditembak dan digunakan sebagai spesimen, terutama kulitnya untuk diisi dengan bahan tertentu untuk kemudian dipajang, untuk diberikan kepada atasannya di Museumnya. Meskipun barang-barangnya telah dirampas, ia dengan segera balik ke negaranya sambil membawa sejumlah spesimennya.
Misionaris New South wales adalah saksi yang merasa ngeri terhadap pembantaian yang dilakukan oleh polisi berkuda terhadap sekelompok yang beranggotakan lusinan orang aborigin, perempuan dan anak-anak. Empat puluh lima kepala kemudian direbus dan 10 tengkorak terbaiknya dibungkus dan di kirim ke luar negeri. 35
Pemusnahan suku aborigin berlanjut hingga abad ke-20. Di antara cara yang dipergunakan dalam pemusnahan ini adalah pengambilan paksa anak-anak aborigin dari keluarga mereka. Kisah baru oleh Alan Thornhill, yang muncul di Philadelphia Daily News edisi 28 April 1997, mengisahkan perlakuan terhadap suku aborigin sebagai berikut:

sumber : http://miztalie.blogspot.com